Defisiensi G6PD di Sumba dan implikasinya terhadap pengobatan vivax malaria dengan primakuin

Pengobatan yang aman untuk infeksi Plasmodium vivax membutuhkan diagnosis status aktivitas enzim G6PD, karena terapi anti-relapse yaitu primakuin, dapat menyebabkan anemia hemolitik pada pasien yang kekurangan enzim tersebut. Banyak negara merekomendasikan pemberian primakuin tanpa melakukan pemeriksaan G6PD dikarenakan keterbatasan kemampuan untuk melakukan pemeriksaan ini. Namun resiko anemia hemolitik ini tergantung kepada intensitas dari aktivitas enzim yang ada di suatu wilayah. Oleh sebab itu tim peneliti melakukan pemeriksaan G6PD di Sumba untuk menilai seberapa besar potensi resiko yang mungkin timbul jika primakuin diberikan tanpa pemeriksaan G6PD terlebih dahulu. Sampel darah dikumpulkan dari 2033 penduduk lokal yang berasal dari tiga kabupaten yang kemudian diperiksa malaria dan G6PD. Lokasi penelitian terletak pada dua kawasan yaitu kawasan pendalaman dan kawasan pantai. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi malaria di kawasan pantai lebih tinggi dibandingkan kawasan pendalaman (5.9% vs 0.2%). Dari pasien yang positif malaria, 55 pasien dengan infeksi P. falciparum, 6 P. vivax dan 1 infeksi campuran. Adapun prevalensi defisiensi G6PD di kawasan pantai juga lebih tinggi dibandingkan kawasan pendalaman (6.7% vs 3.1%). Adapun variant genetik yang ditemukan adalah Vanua Lava, Viangchan, Chatham dan Kaiping. Tiga variant pertama merupakan varian genetik yang dominan ditemukan di wilayah tersebut dan dipandang merupakan tipe varian genetik yang dapat menyebabkan anemia hemolitik berat.

Sumber:  Satyagraha AW, et al. 2015. G6PD deficiency at Sumba in Eastern Indonesia is prevalent, diverse and severe: implications for primaquine therapy against relapsing Vivax malaria. PLoS Negl Trop Dis. 9:e0003602

Kontributor: Iqbal Elyazar