Infeksi Plasmodium malariae di Papua

 

Plasmodium malariae adalah salah satu dari 4 spesies Plasmodium yang umum menginfeksi manusia. Besaran insidens infeksi P. malariae ini dipandang lebih rendah dipandang dari infeksi P. falciparum, umumnya bersifat asimptomatik, infeksi dapat bersembunyi lama di dalam tubuh manusia dan jarang sekali ditemukan menjadi infeksi berat. Infeksi P. malariae mungkin mempunyai hubungan dengan sindrom nefrotik, yaitu gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh manusia kehilangan terlalu banyak protein di dalam urin. namun kasus infeksi malariae dengan sindrom nefrotik relatif jarang dilaporkan. Oleh sebab itu, tim peneliti melakukan investigasi situasi infeksi P. malariae di Kabupaten Timika, Papua dengan menggunakan data historis dari RS Mitra Masyarakat selama hampir 10 tahun yang melibatkan 1.054.674 kunjungan.

Hasil dari penelitian tersebut menemukan 196.380 kunjungan dengan infeksi malaria (18.6%) dan 2.6% (5.097/196.380) diantaranya adalah kunjungan dengan infeksi P. malariae. Sekitar 8.5% (432/5097) kunjungan P. malariae membutuhkan rawat inap. Proporsi rawat inap ini relatif sama dengan infeksi P. vivax dan P. ovale, namun lebih rendah jika dibandingkan dengan infeksi P. falciparum (17.4%). Terdapat 4 kasus sindrom nefrotik pada orang dengan infeksi P. malariae (0.1%, 4/5097), lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi P. falciparum (0.01%,6/100.072), P. vivax (0.01%, 4/65.306) dan P. ovale (0%, 0/120). Seluruh kasus sindrom nefrotik pada infeksi P. malariae terjadi pada anak-anak dibawah 5 tahun, namun tidak ada anak-anak ini yang meninggal sampai pada akhir penelitian. Penelitian ini memperkirakan bahwa resiko sindrom nefrotik ini mungkin terjadi pada 1 dari 200 kunjungan anak-anak dibawah 5 tahun dengan infeksi P. malariae. Rata-rata konsentrasi Hb pada pasien dengan infeksi P. malariae (9 g/dL) lebih rendah dibandingkan dengan infeksi Plasmodium lainnya. Individual dengan infeksi P. malariae memiliki resiko thrombocytopenia dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan individual tanpa infeksi malaria (AOR=2.3, 95% CI 1.9-2.8). Terdapat 0.3% kasus kematian pada pasien dengan infeksi malaria (16/5097), relative sama dibandingkan dengan infeksi P. falciparum (0.4%, 376/100.078), infeksi P. vivax (0.2%, 130/65.306) dan infeksi berganda (0.3%, 73/25.779).

Fakta yang ditemukan memperkuat relevansi klinis dari infeksi P. malariae dan kembali menekankan pentingnya eradikasi seluruh spesies Plasmodium yang menginfeksi manusia.

Sumber: Langford S, et al. 2015. Plasmodium malariae infection associated with a high burden of anemia: a hospital-based surveillance study. PLoS Negl Trop Dis. 9:e0004195

Kontributor: Iqbal Elyazar