Dampak menggunakan penolak nyamuk terhadap insiden malaria di Sumba

 

Pencegahan SM-3316

Teknologi inovatif perlu dikembangkan untuk mencegah kontak antara nyamuk infektif dan penduduk beresiko malaria. Salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan bahan kimia untuk membuat nyamuk menghindar dari sasarannya. Oleh sebab itu, para peneliti melakukan suatu pengujian kluster terandomisasi untuk menilai seberapa besar proteksi yang diberikan oleh bahan kimia ini (metofluthrin) dalam menghindarkan seseorang dari infeksi malaria. Pengujian dilakukan terhadap 445 rumah yang dihuni oleh 2120 orang. Keseluruh rumah diberikan perlakuan acak ke dalam salah satu dari kelompok perlakuan (kelompok “aktif” dengan situasi dimana 90% rumah mendapatkan nyamuk bakar aktif + 10% placebo dan kelompok “placebo” dimana 10% rumah mendapatkan nyamuk bakar aktif dan 90% placebo). Setiap rumah dilengkapi dengan 4 nyamuk bakar setiap malam  dan ditempatkan di setiap pojok rumah. Seluruh anggota rumah tangga diperiksa status malarianya setiap minggu selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insidens malaria dalam kelompok aktif lebih rendah dibandingkan dengan kelompok placebo (RR=0.48, 95% CI 0.31-0.75) jika tidak mempertimbangkan efek kluster. Namun, jika mempertimbangkan efek tersebut, maka tidak ditemukan perbedaan resiko insidens malaria pada kedua kelompok tersebut. Intensitas serangan nyamuk dewasa An. sundaicus, vektor malaria utama di wilayah tersebut, lebih rendah di rumah-rumah pada kelompok aktif dibandingkan dengan kelompok placebo. Penelitian ini memberikan fakta tambahan untuk teknik pengendalian yang tidak memerlukan kontak langsung dengan permukaaan yang dilapisi insektisida, seperti halnya kelambu.

Sumber: Syafruddin D, et al. 2014. Impact of a spatial repellent on malaria incidence in two villages in sumba, indonesia. Am J Trop Med Hyg. 91:1079-1087.

Kontributor: Iqbal Elyazar