Dampak penggunaan dihydroartemisinin-piperaquine sebagai pencegahan malaria pada ibu hamil

 

Infeksi malaria menyebabkan masalah yang berat kepada ibu hamil dan janin sehingga kemudian WHO merekomendasikan perlu pemberian obat antimalarial untuk mencegah infeksi malaria selama trimester kedua dan ketiga. Indonesia sendiri belum mempunyai ketentuan dalam hal ini disebabkan obat yang terdahulu yaitu sulfadoxine-pyrimethamine sudah terbukti resisten dan tidak disarankan lagi untuk digunakan. Kukuru dan teman-teman melakukan penelitian di Uganda tentang efektifitas dan keamanan obat-obat antimalaria pada ibu hamil dan janin. Fokus perhatian kita adalah kepada dua kelompok yaitu kelompok yang mendapat ACT (DHP) selama 3 kali pada usia kehamilan 20, 28 dan 36 minggu dan kelompok yang mendapatkan ACT (DHP) setiap bulan mulai usia kehamilan 16 atau 20 minggu. Dengan kata lain, kelompok pertama mendapatkan DHP sebanyak tiga kali sedangkan kelompok kedua mendapatkan DHP sebanyak 5-6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan DHP bulanan prevalensi malaria lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan DHP3x. Hasil pemeriksaan molekular LAMP di plasenta menunjukkan prevalensi malaria untuk masing-masing jenis pemeriksaan: darah plasenta: (2/96 vs 3/88, p=0.67), darah ibu (1/98 vs 3/89; p=0.35) dan darah tali pusar (0/94 vs 0/85). Kejadian tidak diharapkan yang umum terjadi pada kedua kelompok adalah nyeri di perut (<3%). Walaupun DHP diasosiasikan dengan bertambah panjang interval QTc (gangguan irama jantung), namun penelitian ini tidak menemukan hubungan antara pemberian DHP dengan kondisi klinis ini. Tidak ditemukan efek samping berat yang berhubungan dengan pemberian DHP. Studi setidaknya memberikan harapan bagi upaya untuk mencegah malaria pada ibu hamil sekaligus menjadi fakta pendukung bagi penelitian ke depan dan program pengendalian malaria.

Sumber: Kakuru A, et al. 2016. Dihydroartemisinin-Piperaquine for the Prevention of Malaria in Pregnancy. N Engl J Med. 374:928-939.

Kontributor: Iqbal Elyazar