Kontruksi rumah dapat dijadikan indikasi dimana mencari sumber infeksi malaria

Bentuk kontruksi rumah mungkin mempunyai hubungan dengan resiko apakah sebuah rumah dapat diklasifikasikan sebagai rumah dengan resiko tinggi malaria atau tidak. Rumah dengan kontruksi yang lebih terbuka akan cenderung untuk memberikan keleluasaan nyamuk infektif untuk masuk. Dengan kata lain, peluang menemukan penderita malaria pada kondisi rumah yang lebih terbuka mungkin akan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah dengan konstruksi permanen. Oleh sebab itu tim peneliti melakukan investigasi untuk mencari data bagaimana hubungan antara konstruksi rumah dengan malaria. Penelitian dilakukan di enam desa endemis malaria di Sri Lanka yang melibatkan 736 rumah yang dihuni oleh sekitar 3000 orang. Selain pemeriksaan malaria pada seluruh anggota rumah tangga, penangkapan nyamuk dewasa dalam rumah juga dilakukan terhadap 150 rumah. Hasil penelitian di Sri Lanka menunjukkan bahwa infeksi malaria ditemukan lebih banyak pada rumah dengan kontruksi yang lebih buruk dibandingkan dengan rumah permanen (21% vs 10%, p <0.01). Nyamuk yang ditemukan beristirahat di dalam rumah juga lebih banyak (1.9-3.4 vs. 0.9-1.9 nyamuk/penangkapan/rumah). Rumah dengan kontruksi yang buruk atau terbuka cenderung meningkatkan serangan nyamuk ke dalam rumah dan meningkatkan peluang infeksi pada anggota rumah tangga dan begitu sebaliknya. Penelitian memberikan dua pesan yaitu meminimalkan akses masuk nyamuk infektif dapat menurunkan resiko terinfeksi malaria. Pesan lainnya adalah rumah tangga dengan kontribusi yang lebih terbuka memberikan kemungkinan untuk menemukan penderita malaria disana lebih tinggi.

Sumber: Gamage-Mendis AC, et al. 1991. Clustering of malaria infections within an endemic population: risk of malaria associated with the type of housing construction. Am J Trop Med Hyg. 45:77-85.

Kontributor: Iqbal Elyazar