Plasmodium vivax

 

Parasit P. vivax memiliki karakteristik biologis yang berbeda dengan parasit lainnya yang menyebabkan mereka dapat menginvansi lebih luas dibandingkan dengan parasit pada malaria lainnya. Selain itu gametosit P. vivax muncul dalam darah dari penderita malaria lebih dulu daripada kemunculan gametosit P. falciparum. Hal ini memberikan banyak kesempatan kepada penderita malaria yang memiliki jumlah gamet yang cukup yang kemudian memungkinkan penularan malaria sebelum infeksi tersebut sempat terdeteksi ataupun diobati. Untuk Indonesia, minimal 11 nyamuk Anopheles telah dikonfirmasi menjadi vektor malaria untuk parasit P. vivax, seperti An. aconitus, An. balabacensis, An. barbirostris, An. farauti, An. flavirostris, An. kochi, An. koliensis, An. maculatus, An. punctulatus, An. subpictus, dan An. sundaicus.  Dalam nyamuk, sporozoit P. vivax berkembang lebih cepat (~ 10 hari pada suhu 25°C) dibandingkan P. falciparum (12 hari). Setelah nyamuk infektif menggigit orang, perkembangan parasit keluar dari sel hati dan menginvasi sel darah merah memerlukan waktu 11-13 hari. Parasit ini dapat memperbanyak diri setiap 48 jam. Kecepatan gelombang invasi parasit ini lebih lambat dibandingkan P. knowlesi (24 jam) namun lebih lambat dibandingkan P. malariae (72 jam).

Beberapa contoh bacaan tentang infeksi parasit ini adalah :

World Health Organization. 2015. Control and elimination of Plasmodium vivax malaria – a technical brief.

Gething PW, et al. 2012. A long neglected world malaria map: Plasmodium vivax endemicity in 2010. PLoS Negl Trop Dis. 6(9):e1814

Howes RE, et al. 2013. Spatial distribution of G6PD deficiency variants across malaria-endemic regions. Malar J . 12(1):418

Baird JK. 2013. Evidence and implications of mortality associated with acute Plasmodium vivax malaria. Clin Micr Rev. 26(1):36–57

Elyazar IRF, et al. 2012. Plasmodium vivax malaria endemicity in Indonesia in 2010. PLoS ONE. 7:5.