Menjinakkan malaria di zaman kolonial

Pabrik kina sebagai obat Malaria pada era kolonial di Bandung (ca. 1920). FOTO/Tropenmuseum

Pada tahun-tahun awal perkembangan Batavia, kota ini pernah mendapat julukan sebagai “Ratu dari Timur”—sebuah permukiman Eropa terbaik di dunia oriental. Tetapi, predikat itu perlahan luntur pada abad ke-18. Malaria jadi gara-garanya.

Pada 1732, VOC baru saja menyelesaikan penggalian kanal baru. Tak lama setelah itu, banyak penduduk yang bermukim di sekitar kanal mendadak jatuh sakit. Kanal baru tersebut agak jauh dari benteng kota Batavia, akan tetapi wabah penyakit menyebar juga ke dalam kota. Hingga seabad selanjutnya, penyakit itu, yang kemudian dikenal sebagai malaria, menjadi momok mengerikan bagi warga kota.

Sejarawan Bernard H.M. Vlekke dalam karya klasiknya, Nusantara: Sejarah Indonesia (2018), menulis, “tidak bisa dijelaskan mengapa penyakit itu muncul begitu tiba-tiba atau, paling tidak, mengapa penyakit itu menyebar luas begitu mendadak setelah 1731 dan apakah penggalian kanal baru itu berhubungan dengan hal itu. Dokter masa itu gagal menemukan penyebabnya” (hlm. 197).

Penduduk Batavia mengira epidemi itu disebabkan cuaca tropis dan kondisi kebersihan kota yang kian hari kian memburuk. Dalam anggapan mereka, udara berbau busuk yang menguar dari kanal-kanal yang kotor adalah pembawa penyakit itu. Selama bertahun-tahun korban paling banyak adalah orang Eropa. Penduduk pribumi, meskipun tak terlalu peduli dengan kualitas lingkungan, justru lebih kebal.

Dengan cepat pamor Batavia sebagai kota persinggahan orang Eropa di Kepulauan Hindia merosot. Dari awalnya dikenal sebagai kota tercantik, pada paruh akhir abad ke-18 ia berubah jadi kota paling tak sehat di timur. Penduduk Eropa yang cukup berada memilih pindah ke pedesaan di selatan yang lebih sehat.

Kondisi itu membuat kapal-kapal orang Eropa sebisa mungkin menghindari singgah di Batavia. Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2011) mencatat penyesalan pelaut Inggris Kapten James Cook yang pada 1770 terpaksa berlabuh di Batavia karena kapalnya rusak. Ketika ia tiba pada Oktober, seluruh awak kapalnya dalam keadaan sehat. Namun, hanya berselang dua bulan banyak di antara mereka terjangkiti malaria dan tujuh orang meninggal (hlm. 58).

“Lebih banyak orang Eropa meninggal karena udara yang tidak sehat di Batavia daripada di tempat-tempat lain di dunia,” tulis Kapten Cook dalam jurnalnya sebagaimana dikutip Blackburn.

Penanaman Kina

Meskipun sebab pasti malaria belum diketahui, tetapi orang Eropa sudah tahu obat penangkalnya. Obat itu diperoleh dengan mengekstrak sari pati kulit pohon kina yang disebut kinine. Sayangnya, pohon kina saat itu hanya bisa ditemukan di pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Pada awal abad ke-19, produksi kinine dari Amerika Selatan dikendalikan Peru dan Bolivia. Pasokannya sedikit dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membelinya. Padahal, pada 1840-an, pengobatan malaria dengan kinine menjadi praktik standar di koloni Inggris di Afrika. Penggunaan kinine kemudian menyebar pula ke Asia, termasuk Hindia Belanda.

Karena itu, aklimatisasi pohon kina di Jawa lantas jadi obsesi pemerintah kolonial. Selain menjanjikan keuntungan ekonomis, produksi kina juga berguna untuk menekan epidemi malaria di tanah jajahan.

Seturut penelusuran Andrew Goss dalam Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan: Dari Hindia Belanda sampai Orde Baru (2014), adalah botanikus J.K. Hasskarl yang berhasil membawa bibit pohon kina dari Peru ke Jawa pada 1854. Usaha Hasskarl itu lalu dilanjutkan Franz Wilhelm Junghuhn, botanikus Belanda kelahiran Jerman, yang cukup berhasil mengembangkan perkebunan kina di dataran tinggi Malabar.

“Selama delapan tahun berikutnya Junghuhn bekerja tanpa kenal lelah—menanam stek, menguji kulit batang, dan menulis buku petunjuk—semuanya demi menghasilkan lebih banyak lagi pohon kina,” tulis Goss (hlm. 61).

Riset Malaria Modern

Parasit penyebab malaria baru diketahui pada 1880 oleh Dokter Charles Alphonse Laveran. Patologis asal Perancis itu menemukannya ketika bertugas sebagai dokter bedah di Algeria. Ketika mengotopsi tubuh seorang korban malaria di sana, Dokter Laveran mengidentifikasi adanya protozoa dalam darah si korban. Protozoa itu dinamainya Oscillaria malariae dan kemudian lebih dikenal sebagai plasmodium.

Penemuan Dokter Laveran itu mematahkan persepsi bahwa malaria disebabkan kondisi udara yang buruk. Temuan Dokter Laveran itu juga memicu penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai malaria, tak terkecuali di Hindia Belanda.

Sebagaimana diungkapkan parasitolog Jan Peter Verhave dalam “First Phase of Modern Malaria Research in the Dutch Indies 1880-1918” yang jadi bagian bunga rampai The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942: A Platform for Medical Research (2017: 396), orang pertama yang tercatat melakukan riset terkait malaria adalah petugas dinas kesehatan kolonial bernama Allard van der Scheer.

Fokus utama van der Scheer adalah mengobservasi morfologi plasmodium. Ia pikir, pengetahuan morfologi yang mendalam akan bermanfaat bagi diagnosis malaria. Soal ini penting karena saat itu petugas-petugas kesehatan dihadapkan pada perkembangan variasi spesies plasmodium.

Dari mikroskopnya, van der Scheer mengamati sesuatu yang unik. Dalam sampel darah pasien malaria itu, eritrosit (sel-sel darah merah) yang sehat saling menempel dan membentuk semacam gulungan. Sementara itu eritrosit yang terinfeksi tak ikut bergerombol. Ia juga mendapati morfologi plasmodium yang menyebabkan malaria tertiana dan kuartana tak banyak memiliki perbedaan.

Dari riset pertamanya itu, ia yakin bahwa pengamatan mikroskopis mestinya jadi metode pertama untuk diagnosis malaria. Pada 1891, ia memublikasikan hasil observasinya dalam jurnal Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (GTNI), jurnal ilmu kesehatan paling prestisius di tanah jajahan.

Selanjutnya van der Scheer meneliti pola-pola demam yang sering didapati di Hindia Belanda. Pada zaman itu orang menganggap bahwa setiap demam adalah malaria. Hal ini membuatnya penasaran, karena tentunya ada perbedaan antara demam malaria dan demam karena penyakit lain. Persoalan ini penting bagi bidang etiologi (cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sebab dan asal penyakit).

Kali ini van der Scheer tak bekerja sendirian. Ia mendapat bantuan fasilitas dan tenaga dari Direktur Laboratorium Medis Dokter Djawa School Christiaan Eijkman. Mereka berdua melakukan otopsi terhadap pasien meninggal yang dianggap terserang malaria. Van der Scheer dan Eijkman mendapati adanya parasit di limpa beberapa pasien meninggal, tetapi sebagiannya bukanlah plasmodium. Artinya, sebagian pasien itu sejatinya tak terserang malaria, tapi penyakit lain.

Hasil ini tentu mematahkan anggapan umum bahwa setiap demam pasti berujung malaria. Selain itu, ia juga berhasil mengidentifikasi demam yang polanya nisbi baru dari yang sudah diketahui. Pola itu disebut sebagai “demam knokkel” atau “demam lima hari”. Kini pola demam itu dikenal sebagai demam dengue.

Hasil penelitian van der Scheer itu akhirnya diterbitkan dalam GTNI pada 1893. Dalam artikelnya, ia sekaligus menjelaskan tentang pentingnya penyelidikan etiologi dan klinis terkait bentuk-bentuk demam di Hindia Belanda (hlm. 398).

Pada 1898, van der Scheer mengakhiri masa tugasnya di Hindia Belanda. Sayang sekali, ketika ia pulang kembali ke Belanda riset malaria di tanah jajahan juga terhenti. Tak ada koleganya yang melanjutkan penelitian-penelitian yang telah diinisiasinya.

Sumber isi dan gambar: tirto.id