Gejala malaria yang harus diwaspadai

Malaria adalah penyakit yang ditularkan nyamuk di zaman dahulu, tapi masih menyerang jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun.

Menurut data WHO, diperkirakan 216 juta kasus terjadi secara global pada 2016 dan hanya 15 negara yang sering berhadapan dengan penyakit ini, terutama negara Afrika bagian selatan.

Malaria disebabkan oleh parasit yang menginfeksi jenis nyamuk tertentu, yang kemudian melompat dari orang ke orang. Parasit menyebarkan limbah dan racun ke dalam sel darah yang terinfeksi, yang akhirnya didistribusikan ke seluruh aliran darah Anda.

Malaria juga dapat ditularkan melalui transfusi darah, tetapi ini sangat jarang terjadi. Penyakit ini tidak menular, jadi Anda tidak bisa terinfeksi melalui sentuhan atau udara.

Biasanya gejala tidak muncul sampai 7 hingga 30 hari setelah terinfeksi. Inilah yang sering menyebabkan keterlambatan atau salah diagnosis. Hal ini disebabkan jenis parasit tertentu dapat terbentuk di hati, mengaktifkan kembali penyakit berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gigitan terinfeksi Anda.

Gejala malaria mirip dengan flu dan biasanya akan merasa menggigil, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, mual dan muntah. Karena Anda kehilangan sel darah merah, Anda mungkin mengalami anemia dan kuning pada kulit atau mata.

Jika infeksi tidak ditangani, gejala yang lebih parah bisa terjadi. Ini termasuk gagal ginjal, kejang, kebingungan mental atau bahkan koma hingga kematian. Malaria yang bisa sebabkan kematian lebih sering terjadi di Gurun Sahara, Afrika selatan.

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah malaria. Pertama, jika Anda hendak bepergian ke daerah yang banyak terdapat nyamuk malaria, Anda dapat minum obat antimalaria dan mengusir nyamuk dari lokasi tempat tinggal.

Kenakan pakaian yang melindungi tangan dan kaki, oleskan obat nyamuk ke kulit yang tidak tertutup pakaian, gunakan kelambu di tempat tidur.

Sumber: medcom.id