Obat malaria kambuhan dapat lampu hijau di AS

Obat terbaru yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit malaria kambuhan akhirnya mendapat izin dari Food and Drug Administration (FDA), Amerika Serikat.

Dilansir dari BBC Indonesia, para ilmuwan menyebut lolosnya obat yang bernama tafenoquine ini sebagai ‘pencapaian fenomenal’. Sebab obat ini dapat menyembuhkan sejenis malaria yang bisa bertahan di organ hati pasien selama bertahun-tahun, dan menyebabkannya bisa sewaktu-waktu kambuh.

Malaria Plasmodium vivax, jenis malaria yang dimaksud, merupakan satu dari empat jenis malaria yang paling umum di luar kawasan Sub-Sahara Afrika bersama tiga jenis lainnya, yaitu: plasmodium falciparum, plasmodium ovale dan plasmodium malariae. Malaria jenis plasmodium vivax adalah jenis malaria kambuhan yang telah menyebabkan sekitar 8,5 juta orang sakit setiap tahunnya.

BBC menyebutkan, anak-anak biasanya sangat berisiko. Dari satu gigitan mereka bisa mengalami beberapa kali serangan malaria, membuat mereka harus meninggalkan pelajaran, dan keadaan fisik yang semakin lemah setiap kali terkena penyakit tersebut.

Orang yang terinfeksi juga dapat berperan sebagai pembawa penyakit tersebut tanpa disadari. Hal ini disebabkan karena ketika parasit tersebut aktif kembali di dalam tubuh mereka, seekor nyamuk yang menggigit mereka dapat membawa parasit tersebut, dan menularkannya pada orang lain. Sehingga sulit untuk menghilangkan penyakit ini di seluruh dunia.

Tafenoquine terbukti dapat mengangkat parasit itu keluar dari tempat persembunyiannya di lever, dan tidak dapat menyebabkan sakit lagi. Obat ini dapat diminum bersama-sama dengan obat lain untuk mengobati infeksi yang timbul.

Sebelumnya sudah ada obat yang dapat digunakan untuk menyingkirkan malaria yang bersembunyi di liver, yaitu primaquine. Akan tetapi obat tersebut harus dikonsumsi selama 14 hari.

Sehingga sering terjadi, setelah mengonsumsi obat tersebut selama beberapa hari, dan pasien merasa lebih enak, mereka akan menghentikan pengobatannya. Hal ini membuat parasit malaria tersebut bangkit lagi.

Sementara, menurut situs Radio NZ, tafenoquine dapat dikonsumsi hanya dengan dosis tunggal.

Dr. Hal Barron, Kepala Ilmuwan dan Presiden Badan Penelitian dan Pengembangan di GlaxoSmithKline (GSK), perusahaan yang memproduksi tafenoquine yang dinamai Krintafel ini mengatakan dalam rilis media yang dikeluarkan perusahaan tersebut, izin obat malaria terbaru ini merupakan tonggak bersejarah bagi mereka yang telah hidup dengan malaria plasmodium vivax selama lebih dari 60 tahun, yang menyebabkan kambuhnya penyakit ini berkali-kali.

“Bersama rekan kami, Medicines for Malaria Venture, kami percaya Krintafel akan berkontribusi dalam upaya berkelanjutan untuk memberantas penyakit ini.

Dr. David Reddy, CEO Medicines for Malaria Venture, menambahkan dunia telah menunggu obat ini selama beberapa dekade, untuk melawan kambuhnya malaria plasmodium vivax.

“Hari ini dapat dikatakan bahwa penantian itu telah usai,” ujarnya. “Selain itu, sebagai dosis tunggal pertama untuk penyakit ini, Krintafel akan membantu meningkatkan kepatuhan para pasien. Kami bangga telah bekerja bersama dengan GSK selama lebih dari satu dekade, dan sekarang fokus kami adalah bekerja untuk memastikan bahwa obat ini akan menjangkau pasien yang paling membutuhkan.

Tafenoquine sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. Pertama kali ditemukan oleh para ilmuwan di Walter Reed Army Institute of Research pada tahun 1978.

Kemudian pada tahun 2008 GSK bekerja sama dengan lembaga nirlaba Medicines for Malaria Venture (MMV) melakukan penelitian guna mengembangkan tafenoquine sebagai obat anti kambuh bagi pasien yang terinfeksi P. vivax.

FDA mengatakan obat ini efektif, dan telah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Misalnya mereka yang bermasalah dengan enzim, yang disebut defisiensi G6PD, tidak boleh mengonsumsi obat ini karena akan menyebabkan anemia berat. Obat ini hanya boleh diberikan pada mereka yang berusia 16 tahun atau lebih.

Pemangku kebijakan merekomendasikan agar pasien melakukan tes terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat ini, agar memperoleh dosis yang tepat. Karena ada kekhawatiran dosis obat yang tinggi dapat menjadi masalah bagi mereka yang mengidap penyakit jiwa.

Bagi mereka yang tinggal di daerah di mana malaria merupakan penyakit yang umum, selain obat, juga perlu dilakukan tindakan pencegahan lain, termasuk memasang kelambu, agar mengurangi jumlah plasmodium vivax.

Sumber: beritagar.id