Diskes ungkap 10 penyakit terbanyak diderita warga

Dinas Kesehatan (Diskes) Kutai Barat (Kubar) merilis data bahwa kurun Januari–Juli 2018, terdapat 10 jenis penyakit terbanyak diderita masyarakat. Di antaranya, gastritis (mag, radang lambung/tukak lambung), dan nasofaringitis akuta (common cold) atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kemudian hipertensi primer (tekanan darah tinggi), influenza (infeksi virus pada pernapasan secara tiba-tiba). Tipe dua yakni non-insulin dependent DM, myalgia, hipertensi sekunder, faringitis (peradangan), arthritis (gejala perlu diagnosis) tidak spesifik, serta penyakit demam.

“Total jumlah pasien selama Januari–Juli 2018 dari 10 jenis penyakit itu adalah 14.526 orang. Perinciannya, pasien gastritis 4.052, nasofaringitis akuta (ISPA) 2.837 pasien, hipertensi primer 2.516 pasien, influenza 1.854 pasien,” terang Kepala Diskes Kubar Aliman melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Veronika Yulia di kantornya, Senin (6/8).

“Non-insulin dependent DM 1.181 pasien, myalgia 1.110 pasien, hipertensi sekunder 976 pasien, faringitis 861 pasien, arthritis tidak spesifik 755 pasien, serta penyakit demam 726 pasien,” tambah Veronika Yulia.

Dia menegaskan, Diskes Kubar mengimbau masyarakat terkait dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) agar mengantisipasi dengan pencegahan. Yakni dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Menurut Veronika, Diskes Kubar telah mengirim surat secara resmi kepada puskes se-Kubar, agar hal itu disampaikan kepada masyarakat.

“Pencegahan DBD dengan melakukan kegiatan 3M yaitu menguras, menutup, dan mengubur, terutama tempat air, genangan air, serta sampah. Fungsinya untuk membasmi berkembangnya jentik nyamuk,” urainya.

Menurut dia, selama ini puskesmas rutin melakukan kegiatan pemeriksaan jentik berkala. Bahkan dilakukan penyuluhan cara pencegahan DBD dengan penanganan antisipasi menggunakan fogging (pengasapan). “Utama memberdayakan agar masyarakat selalu menjaga kebersihan lingkungan,” ucapnya.

Veronika membeberkan, selain pencegahan DBD, pihaknya mengantisipasi kasus penyakit malaria yang disebabkan gigitan nyamuk. Anggaran penanganan malaria bersumber dari APBD, APBN dan bantuan luar negeri (global fund). Untuk mencegah penyakit tersebut, Diskes Kubar berupaya melakukan promosi kesehatan serta pemeriksaan darah untuk warga yang berisiko tertular malaria, termasuk pemeriksaan kepada ibu hamil.

“Pemeriksaan kesehatan massal pada daerah endemis malaria dengan cara mass blood survey (MBS). Juga pembagian kelambu berinsektisida kepada masyarakat,” tandasnya. (rud/kri/k8)

Sumber: kaltim.prokal.co