44 pengungsi di Lombok Barat positif terserang malaria

Dua orang warga yang berada di Dusun Batu Kemaliq, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) terjangkit malaria. Mereka langsung ditangani petugas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengantisipasi kemungkinan adanya penularan kepada pengungsi lainnya.

“Dua orang itu awalnya dicurigai campak, tapi ternyata malaria, dan sekarang sudah sembuh dan sudah pulang,” demikian disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Marjito melalui rilis yang diterima Trubus.id, Rabu (5/9).

Kedua warga ini mulai terserang malaria sejak, MInggu (26/8) dan langsung dilarikan ke Puskesmas Gunung Sari.
Selanjutnya, petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat melakukan kegiatan kontak survey/mass blood survey (MBS) untuk mencari kemungkinan penularan. Hasilnya telah ditemukan 44 pengungsi positif terjangkit malaria dan sudah diobati dengan artemisinin combination treatment (DHP dan Primakuin).
Baca Lainnya: Langkah Presiden Jokowi Tangani Gempa 7 SR di Lombok
Kegiatan MBS dilanjutkan pada Jumat (31/8) untuk menemukan lagi sumber penularan malaria.
“MBS dilakukan terhadap 936 orang, dan yang positif sebanyak 44 orang,” ucapnya.
Sebagaimana diketahui, Kabupaten Lombok Barat merupakan wilayah endemis malaria. Lebih lanjut Marjito mengungkapkan, Annual Parasite Incidence-nya di bawah 20 orang per 1.000 penduduk.
Baca Lainnya: Bina Swadaya dan ERCB Fokus Beri Bantuan di 6 Desa Terdampak Gempa Lombok
Dilaporkan juga terdapat perindukan anopheles di dekat lokasi pengungsian, kemudian dilakukan pengendalian lingkungan, pengendalian vektor, dan pelatihan singkat tenaga sukarela oleh petugas dari Dinkes Kabupaten Lombok Barat.
Di Kabupaten Lombok Utara, ada laporan sebanyak 19 kasus malaria, kemudian telah dilakukan pengendalian vektor oleh tim Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Surabaya.
Selama ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mendistribusikan kelambu massal ke daerah endemis tinggi. Kelambu juga telah didistribusikan ke daerah, termasuk NTB sebelum bencana gempa terjadi. [KW]
Sumber: kumparan.com