Bela Kampung, program eliminasi malaria di Papua Barat

Belum lama ini, salah satu program kesehatan di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat menorehkan prestasi di kancah internasional. Itu karena kasus Malaria di kabupaten itu berhasil diatasi dengan sistem Early Diagnosis And Treatment (EDAT) atau Diagnosis Dini dan Pemberian Obat Secara Tepat.

Keberhasilan Kabupaten Teluk Bintuni dalam menurunkan kasus malaria ini telah mendapat penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Maroko pada 24 Juni 2018 lalu, sebagai Juara Pelayanan Publik Wilayah Asia Pasifik Tahun 2018.

Sejak dilakukannya program tersebut, kasus malaria per 1.000 penduduk (Annual Parasit Incidence/API) di Teluk Bintuni mengalami penurunan yang sangat tajam, dari 114,9 di tahun 2009, kini telah turun hingga 0,8 pada Juni 2018.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorrongan, SKM, M.MKes, EDAT merupakan sistem kerja sama pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah dan swasta untuk membentuk juru malaria kampung (JMK) atau spesialis malaria di daerah terpencil yang memiliki akses yang sulit terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.

Perlu diketahui pula bahwa JMK bukanlah tenaga medis, melainkan warga yang dipilih untuk meningkatkan kesadaran dan pendidikan masyarakat sehingga mampu mengidentifikasi, mencegah dan mengobati malaria.

Untuk mengulang kesuksesan yang sama, Dinkes Papua Barat baru-baru ini juga telah menciptakan program yang dinamakan Bela Kampung.

Otto mengatakan bahwa Bela Kampung merupakan program yang bertujuan untuk membebaskan kampung dari malaria dalam waktu dua bulan dan seterusnya, dari kampung ke kampung, secara bertahap, menyeluruh dan berkesinambungan.

Ia menambahkan bahwa Bela Kampung memang sengaja diambil dari pembelajaran keberhasilan EDAT di Teluk Bintuni, sehingga diharapkan mudah dijalankan di semua kabupaten.

“Bela Kampung adalah replika dari EDAT di Teluk Bintuni tapi disesuaikan dengan kabupaten masing-masing. Kami mencoba meramu keberhasilan beberapa kabupaten dalam mengeliminasi kasus malaria,” ucap Otto kepada VIVA di Manokwari, Papua Barat belum lama ini.

Mirip dengan EDAT, Bela Kampung juga melibatkan langsung masyarakat di kampung untuk bersama-sama dengan petugas mengambil darah atau memeriksa darah.

Jika di EDAt ada JMK, dalam Bela Kampung ada kader malaria yang punya tugas sama, yakni dilatih untuk memeriksa darah, mendidik dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya pencegahan serta pengobatan malaria hingga tuntas.

“Setelah diperiksa, misal positif malaria ada petugas kesehatan yang memberikan obat sampai tuntas,” ujar Otto.

Tak hanya itu, selain mensosialisaikan 3M (menutup, menguras dan menimbun), kader malaria juga bertugas memantau kelambu yang telah dibagikan pemerintah.

“Jadi kader-kader malaria terlibat aktif dalam sosialisasi-sosialisasi masyarakat. Kita harapkan efektif untuk (mengeliminasi) melaria di kampung-kampung. Kalau ada yang lapor, bisa didatangi atau datang ke petugas kesehatan. Jadi lewat program ini kami menjemput bola di masyarakat. Bukan hanya statis,” katanya menjelaskan.

Hingga saat ini, Bela Kampung sudah berjalan selama satu tahun dan telah dilakukan di enam wilayah di Papua Barat, yaitu Teluk Wondana, Fakfak, Manokwari, Manokwari Selatan, Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.

Pertanyaannya sekarang, mengapa harus mereplika EDAT, bukannya menjalankan EDAT di kabupaten-kabupaten di Papua Barat?

Dalam hal ini, Otto mengatakan bahwa pihaknya tidak mampu mereplika EDAT persis seperti di Teluk Bintuni. Ini karena mereka sulit menemukan pihak swasta yang mau fokus membantu kasus malaria, seperti perusahaan British Petroleum (BP) yang memberikan bantuan dalam program EDAT di Teluk Bintuni.

“(Bela Kampung) baru jalan setahun. Di Bintuni (EDAT) sudah berjalan (dilakukan oleh) masyarakat dan pengusaha. Di Manokwari enggak ada perusahaan yang terlibat secara nyata. Kader yang dilatih juga belum banyak,” jelas Otto.

“Kami dinas kesehatan selalu terbuka untuk semua pihak untuk membantu pengendalian (penyakit). Kami enggak bisa jalan sendiri. Harus ada pihak swasta termasuk media. Silakan bergabung tapi kita harus berjalan bersama-sama, enggak boleh sendiri-sendiri,” ucapnya menambahkan.

Sebagai informasi, dalam sistem EDAT, selain JMK, dibentuk pula Juru Malaria Perusahaan (JMP), di mana pemerintah bekerja sama dengan perusahaan BP yang menurut Otto punya andil besar dalam keberhasilan program EDAT. BP menempatkan 11 orang untuk membantu pemerintah dalam pengendalian malaria.

Pelibatan JMK juga menjadi salah satu faktor keberhasilan EDAT. “Di Bintuni, JMK dilatih untuk melakukan pemeriksaan darah, memberikan pengobatan. Tentu dengan pengawasan ketat dari petugas kesehatan.

Untuk memudahkan para JMK, digunakan pula metode timbangan berat badan yang telah diberi warna sebagai petunjuk. Mereka yang sudah terkena malaria berobat sampai tuntas dan diberi obat sesuai dengan berat badan mereka.

“Jadi obatnya dikemas ulang, dengan sistem warna untuk memudahkan pemberian dan penggunaan obat malaria. Warna obat yang diberikan disesuaikan dengan warna pada timbangan. Jadi sesuai dengan berat badan pasien,” kata Otto.

Dinkes Papua Barat juga melakukan pelatihan kepada semua dokter, perawat, bidan dan analis laboratorium yang baru direkrut sebelum ditempatkan di tempat tugasnya.

Sumber: viva.co.id