Ada 25 kasus malaria di Kabupaten Tulungagung, Dinkes kumpulkan petugas kesehatan

Untuk meminimalisir penyebaran penyakit malaria di wilayah Kabupaten Tulungagung, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung kumpulkan petugas dari 32 puskesmas di wilayah Tulungagung. Pasalnya hingga pertengahan tahun ini sudah ada sekitar 25 warga Tulungagung yang tertular penyakit itu.

Jumlah itu lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2016 sekitar 4 kasus, tahun 2017 meningkat menjadi 25 kasus. Meski diakui warga yang tertular malaria setelah melakukan bepergian ke Kalimantan, Papua maupun Malasya dan Afrika.
Kasi P2P Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka mengatakan, artinya tidak ada warga Tulungagung yang terkena malaria dari nyamuk yang ada di Tulungagung.

Namun kondisi ini tak lantas membuatnya jumawa sebab sejumlah pantai di Tulungagung masuk dalam kategori endemis malaria.
“Wilayah pantai itu endemis, Popoh, Sidem, Bayem, Klatak, Gemah itu endemis” katanya.
Oleh sebab itu untuk wilayah pantai pantai tersebut pihaknya sudah membagikam lebih dari 5000 selambu berinsectisida yang mampu membuat nyamuk mati ketika akan menembus selambu tersebut.

“Kita sudah bagikan 5000 lebih selambu yang masa pakainya itu bisa 3 sampai 5 tahun, kita bagikan ke penduduk di pesisir pantai,” tuturnya.
selain itu pihaknya juga memaksimalkan keberadaan juru pemantau jentik, terutama di wilayah pantai yang berpotensi terdapat genangan air payau, sebab nyamuk vector malaria tumbuh di air payau.

Selain itu pihaknya secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi penanggulangan penyakit malaria, seperti yang dilakukan pada Rabu (05/09) dengan mendatangkan perwakilan 32 puskesmas di Tulungagung.
“Kita sediakan obat malaria untuk semua sarana kesehatan di Tulungagung, gratis,” tandas Didik Eka P.

Sumber: jatimtimes.com