Malaria jadi musuh masyarakat di Lembata

Malaria Jadi Musuh Masyarakat di Lembata

Sampai saat ini, penyakit malaria masih tinggi di Lembata. Bahkan secara regional, Lembata berada pada urutan di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah Sumba Timur, Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

“Artinya, malaria masih menjadi musuh bersama. Karena itu semua stakeholders harus bersama-sama, bergandengan tangan untuk memberantas penyakit ini.”

Hal tersebut disampaikan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dalam sambytan tertulis yang dibacakan Asisten 3 Sekda Lembata, Frans Langoday pada Acara Pelatihan Tim PLA (Participatoris, Learning, Action) Desa oleh Tim PLA Kabupaten Lembata di Aula Hotel Palm Lewoleba, Senin (10/9/2018).

Dikatakannya, hingga saat ini Kabupaten Lembata masih merupakan daerah dengan jumlah penderita penyakit malaria cukup tinggi di NTT. Para penderita masih banyak dan itu tersebar di seluruh pelosok daerah ini.

Untuk itu, katanya, dibutuhkan peran serta semua komponen untuk mengeliminasi penyakit yang satu ini. Agar semua pihak terlibat aktif, tentunya dibutuhkan rencana dan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.

Dan, pelatihan yang diselenggarakan oleh Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) yang bekerja sama dengan Yayasan Papa Miskin Dekenat Lembata, merupakan hal yang bagus dalam upaya pembasmian malaria di daerah ini.

“Pemerintah mengucapkan limpah terima kasih atas peran dan partisipasi Perdhaki dan Yayasan Papa Miskin Keuskupan Larantuka melalui Dekenat Lembata untuk bersama-sama mengeliminasi penyakit ini. Memang, untuk mengeliminasi kasus malaria dibutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujar Bupati Sunur.

Pihak juga meminta para peserta agar mengikuti pelatihan tersebut dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan peserta dalam pelatihan tersebut sangat berarti bagi berhasil tidaknya pemberantasan penyakit malaria di daerah ini.

“Pelatihan ini merupakan sebuah dinamika yang hasilnya akan terlihat setelah para peserta kembali ke lingkungan masing-masing dan menerapkan apa yang diperoleh dalam pelatihan ini,” ujar Bupati Sunur.

Manager Program SR (Sub Recipient) Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Ende, Ard Dalo, menambahkan, kegiatan itu sebagai wujud dari program malaria Perdhaki untuk Wilayah Flores Lembata. (*)

Sumber: tribunnews.com