Fakta terbaru gempa Lombok, pengungsi terserang malaria hingga kerugian Rp 10,15

Seorang warga mengintip dibalik reruntuhan rumah yang rusak akibat gempa bumi saat proses evakuasi korban di rumah tersebut di Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8). Berdasarkan data BNPB mencatat sedikitnya 98 korban meninggal dunia akibat bencana gempa bumi yang terjadi Minggu (5/8) dan kemungkinan masih akan bertambah.
Berdasar data kerusakan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 8 September 2018, total kerugian mencapai Rp 10,15 triliun. Selain itu, kondisi pengungsi mulai terancam sejumlah penyakit, salah satunya malaria. Berikut fakta terbaru bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat ( NTB).
1. Total kerugian mencapai Rp 10,15 triliun
Kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 8 September 2018 menunjukkan, kerugian ditaksir mencapai Rp 10,15 triliun. “Ini masih kajian cepat. Masih harus diverifikasi lagi,” kata Kepala BNPB, Willem Rampangilei, Senin (10/9/2018). Total nilai kerugian tersebut terdiri dari kerusakan sekitar Rp 2 triliun, dan kebutuhan penanganan bencana diperkirakan senilai Rp 8,63 triliun. Berikut detail data kerusakan dari BNPB, jumlah rumah rusak yang terdata sejauh ini mencapai 167.961 unit. 64,01 persen di antaranya atau sekitar 107.509 unit telah terverifikasi. “Yang rusak berat 32.970 unit, rusak sedang 19.967 unit, dan rusak ringan 54.572 unit,” kata dia. Lalu, 214 infrastruktur yang terdampak, terdiri atas jembatan, jalan, terminal bus, dermaga, irigasi, embung, dan SPAM. Adapun sarana pendidikan yang terdampak sebanyak 1.194 unit, terdiri atas 264 PAUD, 639 SD, 155 SMP, 72 SMA, 56 SMK, dan 8 SLB. Gempa juga mengakibatkan 321 fasilitas kesehatan, 1.143 tempat ibadah, dan 950 fasilitas perdagangan mengalami kerusakan. Adapun jumlah korban meninggal dunia mencapai 564 jiwa, 1.469 jiwa luka-luka dan lebih dari 396.000 jiwa mengungsi. Baca Juga: Pascagempa di Lombok, BNPB Perkirakan Pengungsi Mencapai 20.000 Orang
2. Puluhan pengungsi terjangkit malaria
Puluhan pengungsi di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, mulai terjangkit malaria tropika. Penyakit ini termasuk membahayakan dan sebagian besar yang terserang adalah anak anak. Hal ini segera ditindaklanjuti petugas Dinas Kesehatan dan aparat desa serta kepolisian berupaya untuk mencegah bertambahnya jumlah pasien malaria. Salah satu upayanya dengan membagikan kelambu dan melakukan fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk pembawa penyakit malaria. “Ini kami langsung turun tangan, membantu proses fogging di tenda tenda warg. Meskipun tenda mereka telah diberi kelambu, fogging bisa langsung membunuh nyamuk malaria,” kata Kapolres Kota Mataram, AKBP Muhammad. Dalam sebulan terakhir, ada 37 kasus malaria di Desa Bukit Tinggi
3. Warga khawatir malaria akan menyebar

Kepala Desa Bukit Tinggi, Mashur, menyatakan kekhawatirannya terkait menyebarnya malaria. “Begitu ada warga kami yang terjangkit malaria, kami langsung minta bantuan kelambu. Dan kami dapat satu karung, sisa dari Lombok Utara, satu karung itu berisi 35 kelambu, masih kurang karena kami.khawatir warga banyak yang terserang,” kata Mashur. Dalam sebulan terakhir, ada 37 kasus malaria di Desa Bukit Tinggi. Petugas Dinas Kesehatan dan aparat terkait segera melakukan tindakan untuk mencegah penyebaran malaria di wilayah tersebut.
4. Tim Psikologi TNI terjun bantu korban gempa

Untuk membantu pemulihan trauma pasca gempa, TNI menerjunkan sejumlah tim psikologi ke Lombok, NTB. Tim tersebut akan bekerja di tempat pengungsian Desa Balai Kuwu, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Koordinatot Tim Psikologi TNI Kogasgabpad, Mayor Kes Prasetyo, mengatakan, tim akan melakukan ceramah motivasi dan play games psikologi bagi anak-anak. “Tim Psikologi TNI Kogasgabpad melakuakn sebuah terapi yaitu story telling, dimana anak-anak ini bisa meluapkan emosinya melalui permainan psikologi, mendengarkan cerita dan motivasi yang membuat mereka untuk bangkit,” katanya, dilansir dari Antara.
Sumber berita dan gambar: kompas.com