Sulit dapatkan air bersih, warga Lombok rentan terkena malaria

Anak-anak korban gempa Lombok mulai jatuh sakit. (Istimewa)

Gempa Lombok mengakibatkan dampak yang luar biasa, menelan 555 korban meninggal dunia dengan puluhan ribu rumah yang rusak. Ratusan ribu masyarakat masih tinggal dan menempati tenda-tenda posko pengungsian.

Gempa yang menimpa kawasan Lombok ini dikatakan sebagai gempa terbanyak di sebuah lokasi. Tercatat sudah 2 ribuan kali gempa mengguncang Lombok dan menimbulkan kerusakan yang begitu parah di sejumlah lokasi dan titik rawan gempa.

Kondisi ini semakin diperparah dengan musim hujan datang sebelum waktunya. Hujan biasanya turun pada Oktober dan November, tetapi terhitung sejak 18 September kemarin hujan sudah mulai turun.

Berdasarkan update terkini, tenda-tenda pengungsian yang hanya beralaskan terpal pun sudah mulai digenangi air bekas hujan. Keadaan ini mengartikan bahwa meskipun fase darurat sudah berlalu dan sekarang sudah masuk ke dalam fase transisi, tidak serta merta bahwa masalah yang dihadapi masyarakat Lombok sudah berakhir.

Pada saat bencana terjadi, produksi air bersih yang dihasilkan menjadi terhambat dan perlahan dianggap sebagai suatu hal yang langka. Air yang berasal dari alam kemudian menjadi sulit didapatkan akibat gempa yang terjadi.

Padahal, kebutuhan manusia akan air bersih merupakan kebutuhan pokok dan sangat krusial. Keterbatasan air itu menjadi pemicu timbulnya penyakit.

Bayangkan, mungkin di fase awal orang masih dapat bertahan hidup tanpa pakaian dan perlengkapan lainnya, tetapi jika mereka tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam kurun waktu satu minggu saja. Hal tersebut akan sangat berdampak dan tidak memungkinkan seseorang untuk bertahan hidup.

Ketika terjadi hujan, air yang datang merupakan air kotor dan bukan untuk dikonsumsi.

Isu rentan terkait kesehatan dan sanitasi

NTB adalah salah satu provinsi yang bebas dari penyakit malaria sebelum kejadian gempa. Akan tetapi, hari ini penyakit tersebut sudah menjadi KLB atau kejadian luar biasa malaria.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Setelah cuaca panas yang panjang lalu kemudian muncul hujan dengan curah tinggi, maka jentik-jentik ini kemudian menetas dan seperti biasa melakukan siklus hidupnya kembali.

Kumpulan nyamuk yang menetas tersebut kemudian kembali mencari mangsanya dan hidup sebagaimana ekologinya.

Jika melihat pada kondisi di lapangan, manusialah yang sudah berubah. Perubahan ini memiliki arti bahwa masyarakat yang biasanya berada dalam rumah dengan perangkap nyamuk yang baik dan rumah yang melindungi mereka dari sengatan nyamuk tidak memungkinkan malaria ini mengintervensi.

Namun, kemudian karena sekarang mereka tinggal di tenda, menggunakan kamar mandi tanpa air, lingkungan yang sedemikian kotor, antibodi menurun dan tingkat stres yang juga turun, maka mulailah ini menjadi media baru dalam penularan malaria.

Dalam waktu hanya dua hari pascahujan, terdapat 111 kasus malaria yang muncul. Kondisi ini menjadi sangat memprihatinkan dalam menghadapi kasus kerentanan tersebut.

“Kiranya isu Lombok ini tetap ada dan terus naik karena Lombok masih belum pulih dan masih memerlukan banyak bantuan. Proses recovery inilah yang menjadi sangat penting untuk dilakukan,” ujar Bambang Suherman selaku Resources Mobilisation Director dari Dompet Dhuafa yang ditemui pada acara pers conference Shopee Bersama Lombok, Senin (24/9/2018).

Source: liputan6.com