Warga Lombok butuh fasilitas kesehatan permanen

Cegah wabah malaria kembali terjadi di Lombok

Sebanyak 326 fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, Puskesmas, Puskemas Pembantu dan Pos Kesehatan Desa  di Lombok dan Sumbawa mengalami kerusakan akibat gempa . Dari jumlah tersebut, 150 fasilitas kesehatan rusak berat, yang lainnya sedang dan ringan. Meski banyak yang mengalami kerusakan parah, namun demikian pelayanan kesehatan diusahakan tetap berjalan secara darurat.

“Pelayanan dilakukan dengan mendirikan tenda . Sehingga masyarakat tetap mendapat pelayanan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan NTB, Marjito kepada <I>KR<P>, Rabu (3/10) di kantornya.

Bagi Pemda, apapun kondisi bangunannya, diusahakan pelayanan kepada masyarakat harus tetap dipenuhi. Jika tidak bisa maka dirujuk ke fasilitas kesehatan di atasnya.

Langkah lanjut agar pelayanan lebih baik, yakni dengan mengganti tenda dengan bangunan sementara, yakni berupa rangka baja. Hal itu dilakukan pada Rumah Sakit Daerah (RSUD) Tanjung, Lombok Timur. RSUD tersebut saat ini masih menggunakan tenda, yang didirikan di depan bangunan yang rusak berat. RSUD tersebut akan dipindah sementara ke bekas Terminal Tanjung, dengan bangunan darurat, bukan tenda lagi. “Saat ini sedang proses pendirian. Rencananya akhir Oktober bisa selesai,” ujar Marjito.

Diakuinya, RSUD Tanjung merupakan RS yang rusak parah. Perlu waktu untuk membangun kembali RS tersebut. Namun demikian, sebelum bangun permanen berdiri, maka didirikan bangunan darurat lebih dulu. Selain RS, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu dan Pos Kesehatan Desa juga perlu didirikan bangunan darurat. Namun karena keterbatasan anggaran pemerintah, hanya sebagian yang bisa didirikan. Seperti 64 Puskesmas Pembantu, baru bisa 20 didirikan bangunan darurat.

Sisanya  masih menggunakan tenda. “Bangunan darurat bisa digunakan 2-3 tahun,” ungkap Marjito.
Pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat, atau pihak swasta untuk ikut berperan serta dalam mendirikan fasilitas kesehatan dengan bangunan darurat. Namun jika ingin mendirikan secara permanen, justru lebih baik.
“Kami mempersilahkan pembaca KR, ikut serta membantu mendirikan bangunan darurat atau sekalian yang permanen. Baik Puskesmas, atau Puskesmas Pembantu atau Pos Kesehatan Desa,” ujar pria yang menempuh pendidikan S2 di Yogyakarta.

Mengenai temuan kasus penyakit pasca gempa, diakui diare sering ditemukan. Namun saat ini sudah berkurang, setelah dilakukan penyuluhan secara terus menerus dan pendirian MCK.  Meski demikian, perlu tetap kewaspadaan dari masyarakat.

Selain itu, muncul penyakit malaria yang terjadi di daerah Gunungsari, Lombok Barat.  Yakni pada tanggal 28 Agustus lalu, ditemukan 395 warga terserang penyakit malaria. Atas kejadian itu, Dinas Kesehatan kemudian melakukan penyelidikan, baik terjun ke masyarakat, maupun memantau dari warga yang memeriksakan ke Puskesmas dan Rumah Sakit. Hasilnya, ditemukan kasus 359 warga terkena penyakit malaria. “Ada penurunan sedikit. Namun saat ini, jumlahnya sudah jauh berkurang. Meski demikian, warga tetap harus waspada,” ujarnya.

Terkait bantuan kesehatan, bantuan pembaca KR, juga disalurkan untuk kegiatan baksos kesehatan  untuk warga korban gempa di beberapa tempat, melalui kerjasama dengan rumah sakit. Tidak menutup kemungkinan, kegiatan baksos kesehatan tersebut dilaksanakan kembali. (Jon)

Sumber: krjogja.com