Dinkes: Kasus malaria di Sikka terus alami penurunan

Kasus Malaria

Kasus malaria di kabupaten Sikka selama kurun waktu 2013 hingga 2017 terus mengalami penurunan meski jumlah kasusnya masih tinggi. Perlu berbagai upaya dan kerja sama untuk menekannya.

“Hingga bulan Oktober 2018, penderita malaria positif mencapai angka 246,” sebut kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (21/12/2018).

Jumlah penderita malaria terbanyak terdapat di kecamatan Paga sebanyak 81 kasus disusul kecamatan Waigete sebanyak 26 kasus.

Tren penyakitnya pun masih naik turun dimana di Januari ada 62 penderita positif dan turun menjadi 34 kasus di Februari. Pada Maret turun menjadi 21 kasus sedangkan April kembali naik menjadi 27 kasus.

“Mei jumlah kasus menurun drastis menjadi 7 kasus dan kembali meningkat menjadi 12 dan 22 kasus di Juni dan Juli. Sedangkan Agustus turun drastis menjadi 3 kasus dan September serta Oktober masing-masing satu kasus,” paparnya.

Tantangannya, sebut Maria yakni kondisi lingkungan yang mendukung penularan malaria masih tinggi,. Surveilans kasus dan vektor malaria belum optimal serta perilaku masyarakat dalam pencegahan malaria belum maksimal.

“Sumber daya untuk program malaria juga belum mencukupi baik, kuantitas maupun kualitas. Selain itu, kerja sama lintas program dan lintas sektor belum optimal,” paparnya.

Strategi yang dilakukan, beber Maria, melakukan identifikasi dan intervensi tempat – tempat perindukan nyamuk, surveilans kasus dan vektor malaria secara aktif, meningkatkan kegiatan penemuan aktif kasus malaria untuk memutuskan rantai penularan serta kerja sama lintas program dan lintas sektor.

Dari data Dinkes diketahui pada 2013 terdapat 8.657 warga kabupaten Sikka yang positif malaria sementara 2014 turun menjadi 3.427 kasus.

Untuk 2015 pun terus menurun menjadi 863 kasus dan 2016, 433 kasus. Hanya di 2017 kasus malaria meningkat menjadi 554 kasus positif.

Alexius Armanjaya, direktur Yaspem yang bekerjasama dengan pemerintah membuat gebrakan penanganan secara massif dan terukur.

“Langkah penanganan malaria secara integrative meliputi berbagai poin, misalnya adanya komitmen politis yang jelas ke arah Sikka bebas malaria,” sebutnya.

Butuh manajemen kasus yang tepat dan diagnosis dini, tambah Alex. Selain itu, dinas kesehatan juga perlu mengaktifkan kembali kader Juru Malaria Desa (Jumandes) untuk membantu melacak dan mengantar pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sumber: www.cendananews.com