Daftar penyakit akibat kebiasaan buang sampah sembarangan

Tak hanya kontaminasi air, tumpukan sampah – terutama jika dibakar – dapat menghasilkan bahan toksik seperti karbon dioksida, metana, dan gas beracun lainnya. Sekitar 40-50 persen dari sampah yang dibakar akan menghasilkan karbon dioksida, sekitar 40 persen akan menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan 10 persen akan menghasilkan emisi merkuri.

Seluruh senyawa hasil pembakaran sampah itu dapat meningkatkan risiko infeksi paru serta gangguan pada saraf, penyakit jantung, dan kanker.

Berisiko penularan penyakit

Selain itu, berkontak langsung dengan sampah yang dibuang sembarangan juga dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan oleh binatang (seperti tikus dan nyamuk). Tikus dan nyamuk merupakan binatang yang berhabitat dan “senang” dengan tumpukan sampah.

Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, antara lain malaria dan demam berdarah. Malaria merupakan penyakit yang dapat mengancam jiwa yang disebabkan oleh parasit Plasmodium melalui gigitan nyamuk Anopheles. Pada tahun 2015, lebih dari 210 juta orang terjangkit malaria di dunia dan 429.000 orang dilaporkan meninggal dunia karena malaria.

Sementara itu, DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus berkelamin betina. Tumpukan sampah dan air yang menggenang dapat membuat seseorang berisiko alami DBD. Baik malaria maupun DBD, jika tidak ditangani segera bisa menyebabkan berbagai komplikasi bahkan meninggal dunia.

Sampah berserakan akibat kebiasaan buang sampah sembarangan juga bisa meningkatkan risiko penyakit leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteria Leptospira. Biasanya, bakteri ini terdapat pada urine hewan seperti tikus dan sapi. Seseorang bisa terinfeksi leptospirosis apabila berada di air yang terkontaminasi dalam waktu lama atau melalui kontak dengan luka terbuka.

Sumber: www.liputan6.com