Kisah kampung yang tenggelam di angkernya Danau Koliheret

Bagi masyarakat kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), nama Danau Koliheret terasa asing di telinga. Hanya segelintir orang yang pernah menatap danau ini karena dianggap angker.

Apalagi perjalanan menuju Danau Koliheret di dusun Klahit, desa Watudiran kecamatan Waigete, Sikka terasa melelahkan karena jalan yang rusak berlubang dan di beberapa titik  dialiri air saat musim hujan.

Kepala desa Watudiran, Maxentius Maxmulianus mengakui danau Koliheret dahulu dianggap angker, sehingga warga desa takut mendatanginya. Tapi sejak peringatan Hari Malaria Sedunia 2017 di Sikka, akses dibuka dengan memindahkan keangkerannya ke sebelah barat danau melalui ritual adat.

“Kita berusaha mengumpulkan tokoh masyarakat yang ada. Dikumpulkan 7 kepala suku (dengan ritual adat) agar kesan angker tidak terjadi lagi,” sebut Maxentius kepada Mongabay-Indonesia, Sabtu (23/3/2019).

Pembukaan danau itu bertujuan untuk pengelolaan yang lebih baik karena hasil penelitian Dinas Kesehatan kabupaten Sikka menunjukkan danau Koliheret menjadi sumber penyebaran nyamuk malaria di desa Watudiran.

Sejak 2015 hingga 2017, terjadi kasus penyakit Malaria tertinggi di kabupaten Sikka  yang terjadi di dusun Klahit, desa Watudiran.

“Dinas Kesehatan Sikka telah menyebarkan ikan kepala timah (Aplocheilus panchax) pemakan jentik nyamuk. Dengan adanya pelepasan ikan ini kasus malaria menurun drastis,” ungkapnya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Avelinus S. Nong Erwin menyebutkan ada 34 dari 351 warga desa Watudiran yang terserang malaria pada 2016.  Pada 2017,  ada 42 dari 802 warga yang terkena malaria.

Setelah pelepasan ikan, jumlah penderita malaria menurun sebanyak 7 dari 271 orang. Dan hingga akhir Maret 2019, hanya satu orang yang terkena malaria.

Pada 2016, angka Annual Parasite Incidence (API) mencapai 31,04 per 1.000 penduduk. Artinya dari 1.000 penduduk, 31 orang positif malaria. Angka API meningkat pada 2017 mencapai 31,09/1.000 dan 25,7/1.000 penduduk pada 2018.

“Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah tersebut merupakan daerah endemis tinggi malaria karena angka API-nya diatas 5 per 1.000 penduduk. Daerah endemis rendah angka API-nya di bawah 1 per 1.000 penduduk,” terangnya.

Erwin bersyukur masyarakat sadar sehingga membersihkan danau Koliheret dan mempersilahkan Dinas Kesehatan melepas ikan pemangsa jentik nyamuk sehigga kasus malaria menurun.

Ayam Rano

Petrus Hugo Pulung (69) pemilik lahan di danau Koliheret sekaligus ketua adat mengatakan sekarang danau yang dianggap angker itu bisa dikunjungi wisatawan.

Petrus menceritakan kisah yang membuat danau Koliheret angker. Dahulu, nenek moyangnya membuka kebun di sebuah daerah yang bernama Duking. Lumbungnya beradadi Wua Bahang Bale Kloang. Seorang saudara dan saudari kandung hidup dan menjaga lumbung tersebut.

Saat menjaga lumbung, keduanya hidup sendirian ibarat suami isteri, meski hal ini dilarang secara adat. Usai panen, mereka kembali ke kampung Koliheret.

Usai mengetam padi, biasanya diadakan syukuran usai panen yaitu pesta adat Togo Pare. Saat pesta, digelar tarian Tandak dimana kedua saudara kandung itu ikut menari bersama warga.

“Saat asyik menari, malam itu terjadi hujan lebat dan air mulai memenuhi kampung yang terdiri sekitar 50 rumah. Kampung tersebut tenggelam. Keduanya menyembunyikan hal haram tersebut sehingga terjadilah bencana. Alam dan leluhur marah atas kelakuan keduanya,” tutur Petrus.

Saat pesta adat tersebut ada orang yang tidak ikut menari sehingga luput dari bencana. Keturunan mereka pun ada sampai saat ini di Ilianit. Ada perempuan tua yang selamat dengan membawa ayam. Tapi dirinya menoleh kebelakang hingga berubah menjadi batu.

Ayam peliharaan warga kampung turut tenggelam. Ayam-ayam itu tetap hidup di danau dan terus berkembang biak hingga sekarang. Ayam-ayam tersebut dinamakan Manu Rano atau Ayam Rano.

“Untuk memanggilnya kita harus memukul kayu pepohonan di sekitar danau. Bisa juga dengan bertepuk tangan. Biasanya ayamnya muncul pagi dan sore hari,” ucap Petrus.

Saat menyambangi danau dengan warga, Mongabay-Indonesia menyaksikan ayam-ayam tersebut muncul ke permukaan di tengah danau ketika pengunjung bertepuk tangan. Tapi hanya kepalanya yang terlihat dan jumlahnya puluhan ekor.

Ada juga pohon Koli kata Petrus yang sesewaktu muncul ke permukaand anau. Daunnya berwarna kuning. Juga ada tiang-tiang bekas rumah-rumah penduduk yang biasa juga muncul dan terlihat.

Segera Ditata

Bersama pemilik lahan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah, Danau Koliheret mulai dibuka untuk destinasi wisata demi meningkatkan perekonomian warga.

Sebelum kegiatan dari Dinas Kesehatan, Maxentius mengatakan tokoh masyarakat telah menyerahkan proposal inisiatif pengelolaan danau Koliheret kepada Dinas Pariwisata Pemkab Sikka.

Warga juga telah mengusulkan pengelolaan danau Koliheret untuk aset wisata dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun usulan itu belum ditindaklanjuti.

“Fasilitas mungkin secara berjenjang akan dibangun dari dana desa, tetapi SDM pariwisata lokal yang kita dahulukan. Tahun 2019 dianggarkan dana untuk pendidikan bagi pemandu lokal dan warga mengenai pelayanan kepada wisatawan,” terang Maxentius.

Pemdes Watudiran mengharapkan segera ada desain penataan danau dan anggaran dari Pemkab Sikka, termasuk untuk membersihkan tanaman liar dan lumpur di sekitar danau seluas satu hektar itu.

Sedangkan pepohonan besar tetap dilarang ditebang agar sekitar danau tetap hijau, termasuk bambu kuning (Bambusa vulgaris) yang melingkari danau, yang dahulu ditanam untuk memagari kampung.

Sumber: www.mongabay.co.id