Waspada serangan malaria yang timbulkan kekambuhan

Serangan infeksi malaria pernah terjadi pasca gempa Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2018. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lombok Barat, ada 105 warga terinfeksi malaria. Dari 105 warga, sebanyak 27 diantaranya terkena Malaria Tropicana, 22 warga menderita Malaria Tertiana, dan 56 lainnya didera Malaria Mix.

Kasus malaria tersebar di 28 dusun, 10 desa, dan 3 kecamatan. Data tersebut diperoleh Dinas Kesehatan Lombok Barat setelah melaksanakan blood mass survey dari 28 Agustus sampai 7 September 2018. Penularan malaria lewat nyamuk Anopheles betina bisa menyebar cepat.

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan penyakit tropik infeksi Erni Juwita menjelaskan, proses panjang infeksi malaria, yang bermula dari gigitan nyamuk sampai muncul gejala. Penyebaran malaria diperburuk udara yang diduga akibat udara kotor.

“Udara yang kotor membuat parasit penyakit mudah masuk. Malaria disebabkan parasit yang dikenal sebagai Plasmodium. Parasit ini tidak bisa menular dari manusia ke manusia. Makanya, dia butuh nyamuk sebagai vektor,” jelas Erni dalam siaran langsung di Siaran Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, ditulis Minggu (28/4/2019).

Parasit Plasmodium berkembang biak di dalam tubuh nyamuk. Parasit Plasmodium masuk ke tubuh manusia saat nyamuk Anopheles menggigit. Pada tahapan plasmodium berbentuk sporozoit, manusia bisa terinfeksi malaria.

“Siapa saja bisa kena infeksi malaria, mau bayi, anak-anak, orang dewasa juga lanjut usia (lansia). Tentunya, bisa terinfeksi kalau nyamuk yang menggigit di dalam tubuhnya mengandung parasit malaria,” jelas Erni.

Seperti halnya warga Lombok Barat yang kena infeksi malaria, jenis malaria yang diderita setiap orang bisa berbeda. Hal tersebut tergantung tipe Plasmodium yang masuk ke tubuh nyamuk. Tahapan malaria pada manusia juga berbeda.

Ada lima jenis Plasmodium yang menyebabkan malaria, yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi. Di Indonesia, hampir 50 persen kasus malaria disebabkan oleh Plasmodium vivax, menurut laporan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Yang paling banyak menyebabkan malaria di Indonesia adalah Plasmodium vivax. Ada juga malaria tropikana, yang dari jenis Plasmodium falciparum,” Erni melanjutkan.

Kategori infeksi malaria juga terdiri dari beberapa jenis, baik ringan maupun berat. Ada pasien yang didera malaria ringan, malaria jinak yang tanpa komplikasi. Pada kategori ini pasien boleh pulang.

“Pasien bisa minum obat sendiri dan pulang ke rumah. Jenis malaria ringan ya enggak apa-apa. Beda dengan kondisi malaria berat, yang perlu dirawat di rumah sakit,” ujar dokter yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Ketika pasien didera malaria berat, Plasmodium sudah menginfeksi secara akut. Dalam bentuk yang disebut hipnozoit, Plasmodium bisa bersembunyi di sel hati dalam jangka waktu lama, bahkan selama bertahun-tahun.

Tak ayal, Plasmodium yang bersembunyi ini bisa membuat seseorang mengalami kekambuhan malaria. Ketika daya tahan tubuh rendah, infeksi dari parasit akan masuk ke dalam darah. Tapi tidak semua Plasmodium masuk ke darah, sisanya masih hidup di sel hati.

“Infeksi malaria ini tidak membuat tubuh membentuk kekebalan sendiri terhadap parasit malaria. Artinya, seseorang yang pernah kena malaria bisa kena lagi (berkali-kali). Karena ya itu, sepersekian persen parasit ngumpet di sel hati. Ini yang menyebabkan kekambuhan malaria,” tambah Erni.

Seseorang yang terkena malaria, sel darah merahnya mengalami kerusakan. Ini terjadi disebabkan parasit yang berada di sel hati masuk ke pembuluh darah. Sel darah merah menjadi terinfeksi, lalu muncul gejala.

“(Gejala) sakit malaria paling banyak itu demam menggigil berkeringat yang diisebabkan parasit dalam darah. Sel darah merah yang rusak membuat seseorang pucat, lemas, fungsi hati menurun,” Erni menambahkan.

Gejala lain berupa sakit kepala, mual, muntah, dan  sakit kuning. Penyebab muncul gejala juga dipengaruhi protein bernama hemolisis, yang dihasilkan parasit. Orang dewasa pada umumnya demam, sedangkan anak lebih cenderun anemia dan pucat.

Masa inkubasi parasit malaria, dari kena gigitan sampai muncul gejala bisa berhari-hari dan bulanan. Yang ekstrem, orang bisa langsung terinfeksi malaria hari ini. Ada juga yang baru 50-54 minggu kemudian muncul gejala.

“Karena Plasmodium yang masuk ke manusia bukan dalam bentuk sporozoit, tapi masuk ke hati lalu berkembang biak menjadi fase lanjutan. Misal, Plasmodium berubah menjadi tropozoit dan bisa masuk ke sel darah merah. Masa inkubasi di hati selama 10-14 hari,” papar Erni.

Saat seseorang sudah terinfeksi, obat kombinasi antimalaria akan diberikan dokter. Dikutip dari KlikDokter, bilap kasus malaria yang diderita cukup parah, obat akan diberikan dalam bentuk cairan infus di rumah sakit.

Malaria Plasmodium falciparum, kombinasi obat-obatan yang diberikan dokter berupa artesunate dan amodiaquine; dihydroartemisinin, piperaquine, dan primaquine; serta quinine, doxycycline, ddan primaquine

Untuk malaria yang disebabkan Plasmodium vivax, kombinasi obat meliputi artesunate dan amodiaquine; dihydroartemisinin, piperaquine, dan primaquine.

Yang menjadi catatan, ketika gejala demam malaria yang disertai menggigil muncul, pasien harus memberitahu dokter bahwa ia pernah berkunjung ke daerah endemis malaria.

“Harus bilang ke dokter, ‘Saya pernah ke daerah endemis malaria baru-baru ini atau beberapa waktu lalu. Karena demam saja kan penyebabnya banyak,” saran Erni.

Jika tidak menyampaikan ke dokter pernah ke daerah endemis malaria, maka dokter akan memikirkan penyebab demam lain. Mual juga bisa gejala demam berdarah dengue (DBD) dan tipus juga. Influenza juga timbulkan demam.

Jika pasien menyampaikan dengan rinci pernah ke daerah endemis malaria, dokter bisa memikirkan, gejala yang dialami merupakan pengaruh dari masa inkubasi parasit di hati. Pemeriksaan darah bisa dilakukan.

Agar terhindar dari gigitan nyamuk malaria, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, gunakan losion anti nyamuk dan kenakan pakaian lengan panjang saat hendak berkunjung ke daerah endemis malaria, seperti Maluku dan Papua.

“Bersihkan genangan air dan semak-semak, berikan larvasida (zat pembunuh jentik nyamuk), dan pelihara ikan pemakan jentik nyamuk bila di rumah ada kolam ikan,” ujar Nadia.

Seluruh tempat tersebut termasuk habitat favorit nyamuk malaria. Bagi para pengelola pembangunan wisata juga perlu mempertimbangkan objek wisata yang dibangun tidak ada penyakit dan nyamuk.

Nadia menyebut lokasi wisata Pesawaran, Lampung; Taman Nasional Ujung Kulon, Banten; dan Labuan Bajo masih ada nyamuk malaria. Upaya pengendalian lingkungan dengan membersihkan genangan, rawa, dan laguna bisa dilakukan.

Ini menekan nyamuk berkembang biak, yang bisa menularkan malaria ke pengunjung dan petugas yang bekerja di objek wisata. 

Sumber: www.liputan6.com