Di Republik Democratic Timor Leste Satu Kasus Malaria Jadi KLB

Di Republik Democratic Timor Leste Satu Kasus Malaria Jadi KLB

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini mungkin cocok untuk melukiskan kebijakan penanganan penyakit malaria di Indonesia dengan negara tetangga Republik Demokrat Timor Leste (RDTL).

Di RDTL satu kasus malaria langsung dinyatakan Keadaan Luar Biasa (KLB) sedangkan di Indonesia tergantung situasi dan kondisi. Jika kasus itu terjadi di daerah yang sudah bebas malaria bisa dinyatakan KLB, jika di daerah yang masih endemis, KLB baru dinyatakan jika muncul banyak kasus.

Hal ini terungkap dalam Cross Border Meeting between Republic Indonesia (RI) and Republic Demokratic of Timor Leste (RDTL) di Hotel Matahari Atambua, Rabu (14/8/2019). Kegiatan bersama yang berlangsung selama tiga hari, Selasa (13/8/2019) sampai Kamis (15/8/2019) mendiskusikan berbagai hal terkait rencana aksi bersama dalam penanggulangan penyakit menular, malaria, TB dan HIV/AIDS. Hasil diskusi itu akan dirumuskan dalam poin-poin kesepakatan kerja sama yang akan ditandatangani siang ini.

Maria Do Rosario De Fatima Mota (Progamme Manager NMP) Negara Timor Leste, mengatakan di RDTL satu kasus malaria dinyatakan KLB.

Negara melalui petugas medis dikerahkan untuk mengobati hingga tuntas. RDTL, katanya, tidak memberikan obat gratis karena kondisi keuangan negara, tapi negara sigap hadir memberikan pelayanan kesehatan jika terjadi kasus. Negara juga memberikan reward bagi kader-kader di desa perbatasan dengan Indonesia agar giat memberikan penyuluhan soal hidup sehat dan cepat melapir jika terjadi kasus.

Dokter Yullita Evarini (Section Heald of Malaria Control National Malaria Program dari Indonesia menjelaskan, untuk menyatakan KLB tergantung situasi dan kondisi. Jika satu kasus terjadi di daerah bebas bisa dinyatakan KLB. Untuk daerah endemis, dapat dinyatakan KLB jika muncul puluhan bahkan ratusan kasus. Indonesia juga memberikan obat malaria gratis kepada warga yang didiagnosa malaria untuk eliminasi total.

Diskusi kedua negara itu diawali dengan pemaparan materi oleh Maria Do Rosario De Fatima Mota ,Programme Manager NMP, Constantinho Lopes,Programme Manager NTP dan Dr. Shena Viegas, Programme Manager HIV/AID dari RDTL dan Imran Pambudi, National TB Program Manajer dari Indonesia.

Usai presentase delegasi kedua negara dibagi dalam tiga kelompok yakni Malaria, TB dan HIV/AIDS untuk mendiskusikan secara detail hal-hal terkait untuk dituangkan dalam kesepakatan kerja sama. Di kelompok malaria, diskusi yang dimoderatori Dr. Ermi Ndun dari Indonesia dan Maria dari RDTL difasilutasi Dr. Manel Yapabandara asal Srilanka yang menjabat Technical Adviser Malaria TLS-Moh.

Sumber: kupang.tribunnews.com