Menuju Kabupaten Tana Toraja Bebas Malaria

Menuju Kabupaten Tana Toraja Bebas Malaria

Kabupaten Tana Toraja adalah salah satu daerah tujuan utama wisata di Indonesia.

Kabupaten ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan pemerintah agar lebih banyak wisatawan yang berkunjung.

Saat ini bandara Buntukuni yang akan jadi pintu masuk ke Toraja sedang dalam fase penyelesaian dan diharapkan rampung tahun ini.

Diprediksi saat bandara ini berfungsi maka akan dapat memangkas jarak tempuh dari 7 jam dengan perjalanan darat menjadi sekitar 40 menit saja.

Menuju Kabupaten Tana Toraja Bebas Malaria

Untuk mendukung Toraja sebagai destinasi wisata dunia dan nasional, selain perbaikan infrastruktur pariwisata, salah satu persoalan yang mendesak untuk diselesaikan adalah eliminasi penyakit menular, salah satunya Malaria.

Malaria adalah penyakit yang sangat ditakuti oleh para pelancong asing dan sering dimasukkan sebagai salah satu kriteria travel warning.

Walaupun tidak ada lagi penularan setempat di temukan di Toraja dalam 2 tahun ini, namun migrasi orang yang berasal dari daerah endemik malaria seperti Papua, perlu diwaspadai.

Sekitar 70% kasus malaria di Indonesia berasal dari Papua dan saat ini banyak warga Toraja yang merantau ke Papua dan secara regular pulang saat masa natal dan tahun baru yang juga merupakan puncak kunjugan wisata ke Toraja.

Untuk mempercepat eliminasi Malaria di Tana Toraja, UNICEF, Fakultas Kedokteran Unhas bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Tana Toraja.

Mengadakan pelatihan surveilans Malaria bagi seluruh petugas surveilans dan pengelola program malaria dari 22 Puskesmas se-Tana Toraja.

Dalam kegiatan yang dilakukan di hotel Grand Metro Permai selama 3 hari (18-20/2) hadir 46 orang peserta.

Dalam pelatihan tersebut para peserta diharapkan bisa menjadi ujung tombak eliminasi malaria di setiap wilayah malaria dengan pendekatan 1-2-5.

Hari pertama petugas kesehatan harus sudah mendapatkan notifikasi jika terdapat kasus di wilayah Puskesmasnya.

Hari kedua sudah harus di adakan penyelidikan epidemiologi pada kasus tersebut dengan turun langsung ke lapangan.

Dan hari kelima sudah harus dilakukan intervensi terhadap penderita dan juga kontak di sekitar tempat tinggalnya. Hal ini penting dilakukan untuk memutus rantai penularan sehingga tidak terjadi ledakan kasus.

Dari hasil survei Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Unhas dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Makassar telah ditemukan nyamuk anopheles sebagai vektor malaria di kabupaten Tana Toraja.

Hal penting lain yang ditekankan oleh dokter Erwan Soelistyo, M.Kes, dari Kepala seksi pengendalian dan penanggulangan penyakit (P2M) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, bahwa keberhasilan eliminasi Malari di Tana Toraja sangat ditentukan oleh kegiatan surveilans ini, terutama surveilans migrasi berbasis masyarakat.

“Sebagian besar kasus malaria di Tana Toraja sekarang adalah kasus impor dari tempat lain seperti Papua. Penting sekali menumbuhkan kesadaran masyarakat dan perangkat pemerintahan sampai ke Desa tentang penting eliminasi malaria di Tana Toraja sehingga mereka mau mendorong warganya yang datang dari daerah endemik malaria untuk mau memeriksakan diri ke puskesmas. Jadi seandainya mereka menderita malaria bisa diobati segera sehingga tidak menularkan pada orang lain.”

Dalam pelatihan ini diberikan juga pelatihan pemetaan dan manajemen data dengan sistem informasi malaria secara online (e-Sismal) dari FK Unhas dan Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan.

Manajemen data yang baik dan benar adalah salah satu kunci untuk eliminasi malaria di Tana Toraja, terutama terkait dengan perencanaan, intervensi dan evaluasi program malaria.

Dengan kegiatan ini diharapkan paling lambat pada tahun 2021, Kabupaten Tana Toraja bisa maju untuk sertifikasi eliminasi malaria sehingga target Provinsi Sulawesi Selatan bebas malaria pada tahun 2024 dan Indonesia bebas malaria pada tahun 2030 dapat tercapai.

Sumber: makassar.tribunnews.com