Mengenal daun Sampare, si pereda demam dan Malaria dari Biak

Daun Sampare,tanaman ini sangat dominan tumbuh di Biak Papua ini dikenal dengan nama latin disebut Glochidion sp., keluarga: Phyllantaceae. Berdasarkan kearifan lokal masyarakat, secara turun temurun, dapat digunakan sebagai obat herbal untuk mengobati penyakit Malaria

Bagi masyarakat Biak Numfor, tanaman pohon daun Sampare sangat bermanfaat untuk mengurangi demam. Ramuan ini telah lama digunakan oleh nenek moyang suku Biak secara turun temurun sejak dulu.

Peneliti buah merah dari Universitas Cenderawasih Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) I Made Budi saat dihubungi jubi.co.id melalui WhatsApp, Rabu siang (19/5/2020) mengakui khasiat herbal daun Sampare asal Biak itu.

“Pasien dengan gejala mirip Covid-19 biasanya disertai dengan demam tinggi. Berbagai tanaman herbal di Papua, mampu redakan demam. Ramuan ini pun telah dilakukan turun temurun dari nenek moyang di Papua,”kata peneliti buah merah itu.

Menurut I Made Budi, daun Sampare merupakan tumbuhan perdu, dengan tinggi 2-3 meter. Daun Sampare banyak dijumpai di Biak Papua dan tumbuh liar.

“Masyarakat Papua biasa mengenal daun Sampare untuk mengobati penyakit Malaria, obat tradisional Sampare telah dimanfaatkan turun-temurun dari nenek moyang masyarakat lokal di Biak Papua,”katanya.

I Made Budi sudah enam tahun mengembangkan daun Sampare ini untuk minuman herbal karena kandungan quinon tinggi satu keluarga dengan klorocoin atau klorokuin.

Menurut dosen FMIPA jurusan Biologi itu, ada tiga macam herbal yang bisa dikonsumsi untuk meningkatkan imun tubuh. “Pertama adalah buah merah yang kaya antioksidan dan diduga mampu mengeleminasi toksin virus,”katanya. Herbal yang kedua lanjut dia adalah minuman sehat pakai bubuk cokelat asli Papua yang kaya akan teobromin farnakolognya untuk terapi paru-paru.

Peneliti gizi alumni pasca sarjana IPB Bogor itu juga mengingatkan, jangan memakai bubuk cokelat yang djual di toko karena teobrominya sudah habis.

“Herbal yang ketiga minum teh daun sampare fungsinya untuk menghilangkan rasa demam dan pegal-pegal. Farmakologi aktivitas dari quinon. Terapi seperti segitiga sama sisi tiga titik. Ada koordinasi antara satu titik dengan titik yang lain,”katanya.

Sebuah jurnal Biologi Papua, Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih edisi 26 Oktober 2017 berjudul Uji Aktivitas Sitoksik dan Analisis Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Sampare (Glochidion sp) menyebutkan, berdasarkan kearifan lokal masyarakat, secara turun temurun daun Sampare dapat digunakan sebagai obat herbal untuk mengobati penyakit Malaria.

Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui toksisitas LC50 dan mengetahui senyawa fitokimia daun glochidion sp yang diekstraksi menggunakan etanol. Tes Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan fitokimia menggunakan metode bahan kimia reagen digunakan dalam penelitian ini.

Lebih lanjut penelitian yang dilakukan Ganis Oktalia dan kawan kawan dari mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ini menyimpulkan bahwa toksisitas daun glochidion sp. menggunakan etanol rendah, dengan LC50 = 758,58 ppm dan hasil analisis fitokimia menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan kuinon.

Namun menurut hasil penelitian tersebut steroid dan triterpenoid tidak dapat ditemukan di daun Glochidion sp yang diekstraksi menggunakan etanol. Oleh karena itu, untuk penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengisolasi senyawa bioaktif dan uji in vivo pada plasmodium, yang menyebabkan malariadisease.

Sementara itu dosen dan peneliti dari Faklutas MIPA jurusan Biologi Universitas Cenderawasih Dr Lisye Iriana Zebua mengatakan, kajian tentang daun sampare saat ini baru pada tahap screening fitokimianya. “ Mahasiswa kami yang sudah mengerjakannya sebagai tugas akhirnya ( pembuatan skripsi). Kajiannya sudah dipublikasi dijurnal Biologi Papua,”katanya saat dihubungi jubi.co.id Rabu (20/5/2020)

Potensi obat tradisional di Papua banyak

Dr Lisye Iriana Zebua dalam artikelnya berjudul Pemanfaatan Tanaman Berpotensi Obat oleh Masyarakat Asli Papua dosen dari Jurusan Biologi Universitas Cenderawasih mengatakan daun Sampare atau Glocidion sp sangat berkhasiat menyembuhkan penyakit malaria.”Ini merupakan kearifan lokal dari masyarakat Biak Papua,”katanya.

Lebih lanjut kata Zebua .potensi tanaman obat dari Papua sangat banyak dan beragam. “ Pengetahuan lokal tanaman obat Papua berbeda-beda untuk setiap suku dan sesuai dengan dengan tempat tinggal mereka baik di wilayah Pegunungan maupun di dataran rendah ( wilayah pantai),”katanya.

Namun kata dia, kendala yang dihadapi dalam penelitian di lapangan sekarang ini sudah tidak ada lagi anak anak muda yang mengetahui tanaman obat tradisional dari suku mereka.” Tidak banyak anak-anak muda Papua yang mengetahui tanaman obat tradisional dari suku mereka, Apalagi bila mereka sudah tinggal di perkotaan, maka sebutan untuk nama lokal tumbuhan obat dari suku merekapun tidak mereka pahami,”katanya.

Selain itu lanjut dia umumnya pengetahuan tanaman obat Papua hanya bisa diperoleh keterangan atau penjelasannya hanya oleh para orang tua yang usianya di atas 60 tahun, “Estafet pengetahuan dari para orang tua tentang tanaman obat Papua jarang terjadi bahkan tidak ada sama sekali,”katanya

Sumber: jubi.co.id