Ketika Malaria Mengubah Batavia Jadi Kuburan Orang Eropa

Suasana Batavia Tahun 1929. Warga mencuci dan membersihkan diri di sungaj Ciliwung .

Masa prakolonial di Batavia mengalami beberapa kali wabah mematikan yang menyerang pendatang ataupun pribumi. Salah satu yang paling besar adalah wabah yang terjadi sekitar tahun 1730-an yang berasal dari nyamuk malaria.

Pemerhati warisan budaya kolonial, Lilie Suratminto mengatakan, jauh sebelum 1730, Batavia merupakan kota yang sangat indah. Gubernur Jenderal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Jan Pieterszoon Coen atau JP Coen pada masa itu ingin membangun Batavia seperti kota tempat ia belajar, yaitu Venesia di Italia.

Upaya JP Coen pada masa itu membuahkan hasil. Batavia menjadi kota yang begitu indah hingga dijuluki dunia sebagai Queen of The East. Tidak hanya indah, peraturan yang diterapkan juga mendukung suasana kota tetap bersih.

Lilie menjelaskan, pada saat itu, rumah tidak mengenal saluran pembuangan kotoran manusia. Oleh karenanya, sistem yang dibuat adalah setiap rumah memiliki tong. Setiap hari, si pemilik rumah membuang air di tong tersebut.

“Itu ditutup, nanti orang atau rumah buang air di situ. Semuanya nanti urusan budak, mereka umumnya punya budak. Lalu nanti jam 9 malam kotoran itu dibuang di kali. Seluruh (orang di) kota melakukannya serentak,” kata Lilie.

Belakangan, peraturan tersebut memunculkan istilah bunga malam. Sebab, bau tidak sedap selalu mulai tercium pada pukul 9 malam akibat masyarakat membuang limbah kotoran.

Namun, pada saat itu, air yang mengalir di sungai masih lancar. Polusi pun tidak banyak sehingga air di kota masih tetap bersih dan tidak berbau walaupun setiap malamnya limbah kotoran manusia dibuang di situ.

Selama bertahun-tahun, kehidupan masyarakat berjalan dengan baik dan bersih. Namun, mulai tahun 1730-an, para pengusaha di Batavia menyadari bahwa komoditi rempah bukan satu-satunya yang bisa dijual dan dikembangkan di Indonesia.

Mereka mulai masuk ke komoditi gula yang pangsa pasarnya juga tidak kalah besar, khususnya di Timur Tengah.

Lilie mengisahkan, sejak saat itulah mulai bermunculan pabrik-pabrik gula. Ratusan pabrik gula milik orang Belanda, Cina, dan pribumi mulai dibangun. Selain pasarnya besar, menghasilkan gula juga cukup cepat dan mudah.

“Gula itu menjadi primadona waktu itu diekspor. Gula itu ditanamnya di sekitar Batavia dan daerah Tangerang,” kata Lilie.

“Zaman itu, personel VOC yang meninggal satu tahun ada 500 orang.

Pasar gula semakin berkembang dengan munculnya begitu banyak pabrik. Sayangnya, hal ini berdampak besar bagi lingkungan. Limbah tebu dibuang ke sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung pun dianggap kurang, maka digalilah sodetan yang kanalnya dapat dilihat hingga di wilayah Grogol dari Sungai Cisadane.

Limbah tebu kemudian semakin menyebar di sungai-sungai sekitar Batavia. Pencemaran sungai mengakibatkan nyamuk semakin merajalela dan menyerang manusia. Pada akhirnya, selama masa epidemi ini, sekitar 3.000 orang anggota VOC meninggal.

“Zaman itu, personel VOC yang meninggal satu tahun ada 500 orang,” kata Lilie menjelaskan.

Angka tersebut pada tahun itu sangat banyak karena jumlah penduduk di Batavia masih sedikit. Hal ini kemudian menyebabkan Batavia yang tadinya disebut sebagai salah satu kota terindah di Asia berubah menjadi kuburan orang-orang Eropa.

Lilie menjelaskan, korban malaria bukan hanya personel VOC biasa atau masyarakat umum. Nyamuk malaria juga mengakibatkan kematian dua gubernur jenderal dan direktur jenderal VOC.

“Jadi ada laporan, bahwa lebih banyak orang Eropa meninggal karena hidup tidak sehat,” ujar dia.

Namun, pada saat itu mereka tidak tahu bahwa penyebab penyakit yang diderita adalah nyamuk malaria. Masyarakat mengira ada roh jahat yang menyebabkan banyak orang meninggal.

Lilie mengisahkan, kepercayaan yang salah ini justru menyebabkan gaya hidup yang semakin tidak sehat. “Dikiranya itu adalah roh jahat, oleh karena itu mereka mulai menutup kamar kalau tidur, rapat, nggak ada udara. Itu yang buat umur mereka semakin pendek. Makanya, di batu-batu nisan VOC umurnya orang jarang yang tinggi,” kata dia lagi.

Sumber: republika.co.id